Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025

Mengingat Tubuh yang Mati: Berkabung sebagai Perlawanan terhadap Tabu

2/4/2026

0 Comments

 
PictureKarya Kolase Pribadi “Bersama Tanpa” | Dok. Davina Dachi
Davina Dachi
(Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia)

     “Kematian itu niscaya, lantas, buat apa bersedih?” Demikian ucapan yang sering dilontarkan kepada seseorang yang berduka akan kehilangan orang yang disayanginya. Tangisan dianggap tidak berguna. Duka dianggap harus hanya sesaat singkat. Mungkin saja bahwa pernyataan seperti itu bermaksud untuk membangun kembali kekuatan dalam menjalani masa-masa kelam ini. Akan tetapi, peristiwa berkabung menjadi sangat sempit dengan segala aturan yang disematkan padanya.


​

     Di tengah iklim dunia yang masih didominasi oleh sistem patriarki, peristiwa berkabung dan tubuh-tubuh yang mengalaminya tidak memiliki ruang untuk hadir. Begitu cepat mereka harus menekan eksplosivitas emosi yang sedang terjadi. Saya sendiri mengalami disorientasi hebat ketika orang-orang yang saya kasihi meninggal dunia. Ketika berkabung, rasa kehampaan menyelubungi seluruh tubuh. Hidup terasa terpatah-patah dan makna kian lama menjadi kabur. Tekanan ini semakin membingungkan dengan paksaan sebelumnya yang justru menihilkan rasa kehampaan tersebut. Saya menjadi bertanya-tanya: mengapa pengalaman berkabung begitu dijauhkan?

     Dalam menyelami pertanyaan tersebut, saya merefleksikan bagaimana lingkungan yang tidak ramah terhadap keberadaan duka dan peristiwa berkabung agaknya berakar pada berbagai tabu dalam sistem patriarki. Karena itu, dibutuhkan suatu pemaknaan kembali yang mematahkan kekangan-kekangan dalam pengalaman berkabung tersebut. Sesungguhnya, berkabung lebih dari sekadar menangis; berkabung dapat menjadi perlawanan terhadap tabu-tabu yang menghambat gerak tubuh yang berduka.
 
Tabunya Kerentanan

     Efek sistem patriarki kerap dirasakan dalam pengalaman berkabung. Untuk menangis atau sekadar menunjukkan emosi diasosiasikan sebagai lemah. Kita dipaksa untuk terus tampil kuat, untuk terus berjalan tanpa adanya istirahat sejenak pun. Kerentanan menjadi suatu hal tabu.

     Kerentanan sangat dekat dengan peristiwa berkabung, dan berkabung seringkali terhapuskan demi pencapaian “kekuatan”. Kita merepresi emosi dalam diri dalam harapan bahwa ia akan lenyap. Seolah-olah kita dapat berjalan maju lagi sebab duka hanya sekadar suatu fase. Akan tetapi, konsekuensinya justru membawa tubuh menjadi jauh dari sensibilitas dirinya. Ia menjadi kaku dan semakin terperangkap dalam duka dan tabu tersebut.

     Hal ini pun terkait erat dengan persoalan relasionalitas. Kekuatan telah lama didambakan sebagai independensi. Anggapan bahwa kita tidak membutuhkan orang lain membawakan suatu sense kemandirian yang sangat atraktif. Dari ini, peristiwa berkabung justru menunjukkan sebaliknya: bahwa kita tidak dapat “hidup sendiri” dan kita terus membutuhkan relasi dengan orang lain.

     Judith Butler menyebut bagaimana berkabung menjadi peristiwa di mana subjek menyadari betapa besarnya subjektivitas atau sense of self dihadirkan dari relasi dengan subjek-subjek lainnya. Keberadaan kita bersama orang lain ialah konstitutif akan terbentuknya kehidupan kita. Dalam kata lain, orang lain turut menjadi bagian dari diri kita.

     Merujuk pada Elizabeth Grosz, ia merekonfigurasi kembali internalitas dan eksternalitas subjek sebagaimana model Möbius strip yang saling bertumpahan kepada sesama. Grosz menolak dualisme subjek yang memetakan batas kaku antara subjek dengan subjek lainnya dengan mendemonstrasi bahwa diri kita selalu terhubung dengan orang lain. Möbius strip itu sendiri merupakan sebuah strip persegi panjang yang mana dalam menyambungkan ujung-ujungnya, salah satu ujungnya diputar sebesar 180 derajat. Ini menghasilkan efek permukaan dengan satu sisi yang terus-menerus berjalan tanpa adanya kejelasan sisi mana yang merupakan sisi luar ataupun sisi dalam. Maka, tubuh sebagai Möbius strip mengeksplifikasikan infleksi yang mana yang “eksternal” menjadi yang “internal”, dan begitupun sebaliknya secara kontinu dan relasional.
​
Picture
Dok. Google (https://medium.com/@shengmorni/1963-88a359d2f68b)
​     Dalam peristiwa berkabung, kita turut mengalami disorientasi karena kehilangan sesuatu yang mengkonstitusikan kita. Alhasil, mungkin kita tidak lagi tahu siapa diri kita. Kematian orang lain, terutama orang yang kita kasihi, tidak hanya berupa suatu kejadian eksternal dari diri kita. Kematian orang lain juga menandakan “kematian” kita sendiri.

     Saya yang merasa telah kehilangan “kamu” kemudian menyadari bahwa “saya” pun telah hilang. Apa yang telah “hilang” itu memang tidak dapat ditunjuk dengan jelas ataupun digambarkan secara tepat dengan kata-kata. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kehilangan tersebut dirasakan oleh tubuh. Bagi Butler, yang dirasakan itulah relasionalitas yang tidak terdiri secara eksklusif dari diri “saya” ataupun diri “kamu”, tetapi merupakan ikatan yang membedakan sekaligus menghubungkan kedua hal tersebut.

     Berkabung mengungkapkan kerentanan tubuh kita yang mengalami afeksi. Nyatanya, kerentanan ini melingkupi keseluruhan hidup kita, tidak hanya ketika adanya momen berkabung. Sebab dalam kehidupan,  tidak ada kepastian yang memprediksi kehilangan diri atau orang lain. Dengan begitu, kerapuhan itu akan selalu hadir.

     Oleh karena itu, untuk menolak kerentanan dari relasionalitas adalah untuk menolak apa yang menjadikan eksistensi kita. Proses kebertubuhan tidak pernah selesai, dan ketika kita menolak kerentanan, kita turut menolak posibilitas tubuh dalam membangun relasi dan untuk dapat terafeksi serta tergerakkan olehnya. Sesungguhnya, dalam kekuatan ialah pengakuan akan kerentanan, dan tindakan berkabung mengafirmasi demikian.
 
Ketabuan akan yang Menjijikan

     Sebagai seorang perempuan, ajaran untuk menjadi “rapi” dan “bersih” telah lama mensirkulasi telinga saya. “Hindari yang kotor, yang jelek, yang jijik, yang berantakan dan berlebihan; itu semua harus ditutup karena tidak pantas untuk dilihat”. Kesannya, hal-hal tersebut dianggap sebagai yang tabu karena berada di luar “batas normal”. Maka, saya merepresinya dalam diri. Perasaan duka yang disebabkan peristiwa kematian adalah salah satunya.

     Kematian menjadi begitu “jijik” sebab ia dianggap bertolak belakang dengan kehidupan. Kematian merupakan oposisi dari hidup: ia adalah “non-hidup” atau ekses dari kehidupan. Dalam kehidupan saya, topik kematian seolah berada dalam ambang. Kematian terus terjadi; terus dialami, tetapi jarang dibicarakan secara mendalam. Kematian maupun duka terhadapnya dianggap tidak layak untuk dibicarakan. Pembahasan tentangnya selalu harus dibalut dengan bahasa “manis” untuk menutup “kejijikan”-nya, termasuk depresi atau emosi yang dirasakan. Misalnya, menangis tersedu-sedu dianggap “berlebihan” sehingga harus dipendam.

     Namun, sesungguhnya bahwa “yang menjijikan” itu akan selalu hadir. Menutupinya tidak akan menghilangkannya, justru membuatnya asing dari diri kita. Berkabung menjadi potensi yang mendekatkan diri kita dengan “yang menjijikan” itu yang dapat membantu kita semakin mengenali seluk-beluk diri kita dan orang lain, yang mungkin telah direpresi untuk harus selalu tampil “baik”.
​

     Hal ini tidak bermaksud untuk mendekatkan diri kita kepada kematian secara literal, melainkan untuk benar-benar menghayati dan merefleksikan setiap perasaan yang hadir dalam peristiwa berkabung tanpa represi. Sekalipun, perasaan yang dialami menciptakan kerentanan.

Picture
Dok. Davina Dachi
Mengingat dan Mencintai yang Mati

     Kematian yang telah terjadi tidak dapat dibantah sehingga proses berkabung tidak akan pernah berhenti. Duka memang merupakan suatu hal yang sangat berat dialami. Namun, kita tidak perlu melakukannya sendirian. Karena eksternalitas dan internalitas subjektivitas individu ialah kontinual dan relasional dengan subjek lainnya—sebagaimana Möbius strip—maka tindakan berkabung menjadi “milik bersama”. Duka sebagai konsep yang telah lama dikerangkakan sebagai terma privat perlu digeser menuju gagasan komunal. Oleh karena itu, tindakan berkabung menjadi suatu gerakan kolektif dalam melawan tabu.

     Sebagai contoh, dalam pengalaman berkabung terhadap korban kekerasan femisida, efek yang dirasakan tidak hanya menuju keluarga ataupun teman terdekat korban saja. Kematiannya turut mengafeksi saya dan perempuan-perempuan lainnya yang juga rentan mengalami kekerasan tersebut. Melalui duka, komunitas dapat terdorong untuk bersama-sama melawan ketidakadilan yang terjadi sekaligus merawat memori kehidupan korban.

     Peristiwa kematian tidak hanya menyadarkan relasionalitas kita dengan ia yang telah mati, tetapi juga relasi dengan mereka yang masih hidup. Kerentanan memunculkan rasa kebersamaan komunitas sebab kita berduka bersama. Rasa duka tidak semerta-merta menandakan ketidakmampuan untuk hidup karena menggantungkan diri pada ia yang sudah meninggal. Justru, ini mendorong kita untuk terus bereksplorasi dalam mencari cara-cara baru dalam menjalankan relasionalitas tersebut secara kolektif.

     Oleh karena itu, kematian tidak perlu menjadi keterpotongan relasi secara final. Pengalaman berkabung memungkinkan kita untuk mempraktikkan cinta yang melampaui kematian. Di sini, cinta tidak hanya berbentuk transaksi bersyarat—saya mencintai orang karena ia mencintai saya kembali. Berkabung memungkinkan kita untuk terus mencintai orang yang telah mati tanpa secara literal membangkitkan yang telah mati. Manifestasi cinta yang dimungkinkan berupa kreativitas kita untuk menghargai dia yang mati secara komunal, dan meneruskan memorinya pada tindakan-tindakan kita yang mengalami kerentanan. Tantangannya adalah memobilisasi rasa duka menjadi suatu tindakan yang dilandasi kesadaran bahwa kita bersama dalam kerentanan, dan bersama dalam melanjutkan hidup tanpa yang orang telah mati tersebut.

     Dalam refleksi personal mengenai berkabung, saya mengingat bagaimana tindakan awal yang saya lakukan dalam memproses duka adalah untuk membayangkan bahwa sahabat saya yang telah meninggal sebagai masih hidup. Saya berbicara dan bersikap seolah-olah kematiannya tidak pernah terjadi; seolah-olah ia hanya berada di tempat lain saja. Untuk sesaat, saya dapat mencintainya dengan “damai”.

     Namun, duka yang saya alami semakin berat karena seakan-akan hanya saya yang berperan dalam menghidupi relasi ini; hanya saya yang terus memberi cinta kepadanya. Sementara, daya tubuh dan kapasitas cinta yang saya miliki semakin berkurang tanpa adanya cinta darinya yang berbalik pada saya. “Imajinasi” bahwa ia selalu hidup semakin sulit untuk dipertahankan hingga akhirnya saya harus berkonfrontasi dengan kenyataan bahwa ia memang sudah tiada.

     Berkabung secara kontinu membawa saya pada penyadaran akan tabu-tabu yang mengekang diri saya. Praktik cinta yang saya lakukan berkonsekuensi transaksional dan sempit. Seolah-olah saya hanya dapat mencintainya jika ia hidup bersama saya. Saya menyadari jika saya terus membayangkan sahabat saya itu sebagai “hidup”, maka saya membantah suatu bagian penting pada dirinya, yaitu kematiannya.

     Berkabung menjadi tindakan aktif yang melawan narasi sistem patriarki yang meminggirkan duka dan hal-hal tabu tersebut. Melalui berkabung, saya mengafirmasi dampak kehidupan dan kematian dirinya yang senantiasa membawa perubahan bagi saya dan orang lainnya yang ia tinggalkan. Itulah kekuatan dalam kerentanan berkabung yang memungkinkan kita untuk terus bergerak meskipun kita berduka.

     Memori saya akan dia serta keresahan yang dialami bersama, tetap hidup bersama saya. Berkabung memampukan relasi saya dengannya dapat terus dihidupi, bahkan diperluas dengan relasi-relasi yang dihubungi oleh orang-orang lain yang juga mengalami duka serupa. Dari sini, kita dapat melihat bagaimana praktik cinta dalam berkabung tidak stagnan, dan justru terus bertumbuh secara baru. Setiap harinya, saya menjadi mampu untuk terus mengingat dirinya, dan keberadaan dirinya dalam kematian pun turut mengkreasikan makna-makna baru dalam mencintai yang tanpa harus membantah kondisi mati tersebut maupun duka yang saya alami. Demikian, berkabung menjadi praktik resistensi terhadap tabu dan kekangan sistem patriarki dengan merawat memori dan mencintai apa yang telah dianggap tabu.
 
Referensi
Butler, J. (2004). Precarious Life: The Powers of Mourning and Violence. London ; New York: Verso.

Grosz, E. (1994). Volatile Bodies: Toward a Corporeal Feminism. Bloomington [U.A.] Indiana Univ. Press.

Kelz, R. (2021). The Ethics of Temporality: Judith Butler, Embodiment, and Narrativity. In G. Rae & E. Ingala (Eds.), Historical Traces and Future Pathways of Poststructuralism: Aesthetics, Ethics, Politics (pp. 160–180). New York: Routledge.

0 Comments



Leave a Reply.

    Author

    Sahabat Jurnal Perempuan

    Archives

    March 2026
    January 2026
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    January 2025
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    July 2024
    April 2024
    March 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    July 2023
    May 2023
    March 2023
    February 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025