Dok. Hana Rusmalia Hana Rusmalia (Mahasiswa S-1 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Bagi perempuan, kedatangan menstruasi—atau yang kerap disamarkan sebagai ‘tamu bulanan’—adalah rutinitas yang niscaya, alarm biologis yang setia, penanda bahwa ada kehidupan lain yang terus berputar di dalam tubuh. Namun jujur, berapa banyak perempuan yang benar-benar menyambut hari pertama menstruasi dengan helaan napas legas dan waktu cukup untuk beristirahat? Setelah mencoba untuk mengikuti ritme tubuh selama masa menstruasi, saya merasa ‘menyambut’ masa menstruasi dengan beristirahat adalah hal yang penting. Kendati begitu, apa jadinya jika perempuan tidak mengikuti ritme alamiahnya sebab masa menstruasi yang berbenturan dengan tuntutan jadwal produktivitas yang konstan? Arsyad (2026) dalam tulisannya menggambarkan, nilai seorang manusia modern yang semakin sering diukur melalui angka, skor, dan ‘produktivitas’ akan membuatnya kehilangan ruang untuk merefleksikan nilai moral dan berempati. Tak dapat dipungkiri, pilihan untuk slowing down saat menstruasi seringkali memicu rasa bersalah. Kita merasa kalah, tertinggal, dan terpaksa datang memenuhi jadwal dengan tidak berdaya. Secara biologis, tubuh perempuan memang dirancang untuk melambat pada fase tertentu. Menjelang hari-hari awal menstruasi, kadar hormon estrogen dan progesteron merosot tajam ke titik rendahnya. Dr. Jerilynn Prior—seorang endokrinolog—mengungkapkan, siklus menstruasi adalah indikator vital kelima kesehatan bagi perempuan mulai masa pubertas hingga menopause, seperti halnya detak jantung. Siklus ini mempengaruhi berbagai proses fisiologis, di antaranya suhu tubuh inti, detak jantung, metabolisme, dan sistem kekebalan tubuh. Ketika hormon-hormon ini turun, energi fisik kita ikut menyusut. Ini adalah sinyal neurokimia yang valid agar kita memindahkan fokus dari eksternal ke internal.
Setiap perempuan memiliki ambang batas rasa sakit, respons berbeda-beda untuk merayakan kebutuhannya, dan metode tertentu untuk menetralisasikan rasa sakit agar tidak mengganggu. Selain itu, bagi saya, penting untuk mengenali siklus sinkronisasi menstruasi (menstrual cycle syncing) yang memetakan agenda perempuan agar selaras dengan ritme hormon. Metode yang dipopulerkan oleh Alisa Vitti ini dipahami sebagai proses dimana seseorang memantau sendiri perubahan tingkat energi, siklus tidur, tingkat stres, lalu mengadaptasi perilaku mereka secara fleksibel dalam agenda kerja, jenis olahraga hingga aktivitas sosial. Ada empat (4) fase siklus yang dikenalkan Vitti: menstruasi, folikuler, ovulasi, luteal. Siklus ini dimulai dengan fase menstruasi yang dianalogikan sebagai musim dingin (winter), waktu dimana kadar hormon estrogen dan progesteron merosot tajam ke titik terendah. Berlangsung sekitar hari pertama hingga kelima, energi kita secara alami beralih menjadi lebih internal dan reflektif. Ini momen terbaik untuk melakukan evaluasi, menulis jurnal, serta membatasi aktivitas sosial dengan memilih gerakan santai melakukan mindfulness seperti yoga restoratif atau jalan kaki ringan. Keheningan musim dingin perlahan mencair memasuki fase folikuler atau musim semi (spring) pada hari ke-6 hingga ke-11. Seiring dengan estrogen yang mulai merangkak naik, kreativitas dan optimisme kita kembali bertunas, menjadikan waktu ini sangat ideal untuk melakukan brainstorming, memulai proyek baru, serta kembali membuka diri untuk bersosialisasi dan berolahraga kardio ringan. Puncak dari energi ini mekar sepenuhnya pada fase ovulasi, yang merupakan musim panas (summer) di dalam tubuh pada hari ke-12 hingga ke-19. Didorong oleh lonjakan estrogen dan testosteron yang mencapai puncaknya, daya tarik sosial, kemampuan komunikasi, dan energi fisik kita berada di level maksimal sehingga sangat tepat digunakan untuk agenda-agenda besar seperti presentasi, negosiasi, acara sosial, hingga olahraga berintensitas tinggi seperti lari. Namun, musim panas yang riuh ini lambat laun akan meredup ketika kita memasuki fase luteal atau musim gugur (autumn) di hari ke-20 hingga ke-28. Dominasi hormon progesteron di fase ini awalnya membantu kita tetap fokus menyelesaikan tugas-tugas administratif yang detail atau melakukan editing, sebelum akhirnya energi kita mulai menyusut di akhir fase. Musim gugur ini adalah alarm alami bagi tubuh untuk mulai membatasi obrolan yang melelahkan, beralih ke olahraga yang lebih tenang seperti pilates, dan bersiap kembali memasuki masa istirahat yang teduh. Masyarakat patriarkal dan kapitalistik menuntut tubuh perempuan berfungsi secara linear dan konstan setiap harinya, mengikuti ritme tubuh laki-laki yang berbasis siklus hormonal 24 jam (sirkadian). Sementara itu, menurut Vitti, perempuan bergerak dalam ritme infradian (siklus bulanan). Memaksakan diri untuk tetap berada di performa musim panas saat tubuh sedang berada di kedalaman musim dingin adalah bentuk penolakan terhadap arsitektur tubuh sendiri. Carl Gustav Jung (1969) pernah menulis tentang aspek anima dan ritme alami: bahwa hukum alam yang paling mendasar adalah keseimbangan. Siapa yang tidak memberikan ruang bagi kegelapan dan istirahat, akan dihancurkan oleh cahayanya sendiri. Mengintegrasikan kesadaran akan siklus hormonal ke dalam keseharian bukan sekadar urusan manajemen waktu, tetapi sekaligus sebagai pengakuan atas pengetahuan pengalaman perempuan sebagai sumber kebenaran yang sah. Selama berabad-abad, sains arus utama yang bias gender cenderung mengesampingkan fluktuasi biologis perempuan sebagai ketidakstabilan yang harus diredam. Namun kini, dengan mulai mendengarkan, memetakan, dan memvalidasi apa yang dirasakan oleh tubuh sendiri dari fase ke fase, perempuan sebenarnya sedang mematahkan dominasi pengetahuan tunggal yang maskulin sehingga pengalaman subjektif tubuh seperti rasa lelah atau lonjakan energi tidak lagi dianggap sebagai gangguan. Pembebasan perempuan tidak akan pernah penuh jika ia masih harus mengasingkan diri dari arsitektur biologisnya sendiri demi memenuhi standar dunia yang patriarkis. Tubuh perempuan bukanlah objek pasif yang bisa dieksploitasi oleh target industri. Ketika seorang perempuan secara sadar memilih untuk slowing down atau membatasi aktivitas sosialnya saat menstruasi, ia sedang melakukan tindakan politis. Ia menolak didikte oleh ritme kapitalistik. Maka mendengarkan tubuh bukanlah bentuk kelemahan, ia adalah cara kita merebut kembali otoritas atas tubuh sendiri. Daftar Bacaan Arsyad, Khairullah. (2026). Manusia Langka Yang Tersisih Zaman. Blog JP. https://www.jurnalperempuan.org/blog-sjp/manusia-langka-yang-tersisih-jaman Kowatsch, T. (2026). From Menstrual Cycle Tracking to Menstrual Cycle Syncing: A Scoping Review of Cycle Phase Effects on Lifestyle Behaviors. Proceedings of the 19th International Joint Conference on Biomedical Engineering Systems and Technologies (BIOSTEC 2026) - Volume 1: BIOSIGNALS, 629-644. https://doi.org/10.5220/0014468000004070 Wihlander, B. (2026). The Cycle Syncing Method's creator explains how nutrition optimizes women's hormonal health. Nutrition Insight. Jung, C. G. (1969). Archetypes and the collective unconscious (R. F. C. Hull, Trans.) (2nd ed.). Princeton University Press. (Original work published 1959).
0 Comments
Leave a Reply. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
June 2026
Categories |

RSS Feed