Dok. Annie Spratt (diambil dari Unsplash.com) Khairullah Arsyad (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin) Refleksi atas keterasingan, intelektualitas, dan keadilan potensi manusia dalam dunia yang semakin utilitarian Dalam banyak ruang kehidupan modern, nilai manusia semakin sering diukur melalui angka, skor, dan produktivitas. Penilaian melalui tes, peringkat akademik, hingga sertifikasi profesional membentuk keyakinan bahwa hanya kecerdasan tertentu terutama yang bersifat numerik dan saintifik yang layak diakui. Mahasiswa yang tidak mencapai nilai minimal dalam Tes Potensi Akademik (TPA) atau kemampuan bahasa Inggris sering kali dianggap tidak cukup layak untuk memasuki ruang akademik, apalagi bersaing dalam dunia kerja. Dalam banyak ruang kehidupan modern, nilai manusia semakin sering diukur melalui angka, skor, dan produktivitas. Penilaian melalui tes, peringkat akademik, hingga sertifikasi profesional membentuk keyakinan bahwa hanya kecerdasan tertentu terutama yang bersifat numerik dan saintifik yang layak diakui. Mahasiswa yang tidak mencapai nilai minimal dalam Tes Potensi Akademik (TPA) atau kemampuan bahasa Inggris sering kali dianggap tidak cukup layak untuk memasuki ruang akademik, apalagi bersaing dalam dunia kerja.
Cara pandang tersebut perlahan membentuk standar yang sempit mengenai apa yang disebut sebagai kecerdasan. Dunia seakan menyepakati bahwa kemampuan mengolah angka, memecahkan persoalan logis, atau menghasilkan efisiensi adalah ukuran utama bagi seseorang untuk dianggap relevan oleh zaman. Padahal, kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar skor ujian atau indeks kecerdasan. Di tengah logika tersebut muncul kegelisahan, bagaimana dengan mereka yang potensinya tidak dapat diukur oleh standar semacam itu: Apakah mereka yang berpikir melalui sastra, budaya, filsafat, atau seni masih memiliki tempat dalam dunia yang semakin menilai manusia berdasarkan kegunaan praktisnya? Reduksi Kecerdasan yang Dipersempit oleh Angka Dominasi angka dalam menilai kecerdasan manusia terlihat jelas dalam berbagai mekanisme seleksi pendidikan maupun pekerjaan. Berbagai lembaga pengujian seperti PLTI dan BAPPENAS menggunakan TPA sebagai salah satu alat ukur kemampuan kognitif seseorang. Bahkan terdapat organisasi eksklusif seperti Mensa yang menghimpun individu dengan skor IQ sangat tinggi sebagai simbol kecerdasan luar biasa. Instrumen tersebut tentu memiliki fungsi tertentu, terutama untuk memetakan kemampuan analitis atau logika seseorang. Namun, menjadikannya sebagai ukuran utama untuk memahami potensi manusia merupakan penyederhanaan yang problematis. Sebab, kehidupan manusia dibentuk oleh beragam dimensi yang tidak seluruhnya dapat diukur melalui tes formal. Pemikiran Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligences memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hal ini. Gardner menunjukkan bahwa kecerdasan manusia tidak bersifat tunggal, melainkan terdiri dari berbagai bentuk kemampuan seperti kecerdasan linguistik, musikal, interpersonal, kinestetik, hingga logika-matematika. Setiap individu memiliki konfigurasi kemampuan yang berbeda dalam memahami dunia dan berinteraksi dengan lingkungannya (Patel, 2024). Kita sebut saja ada intelegensia musikal, linguistik, interpersonal, kinestetika badan, logika matematika, yang sekarang menjadi ajang kompetisi dalam meraih sesuatu. Namun, dari keberagaman ini, saya mempertanyakan kembali; apakah kiranya semuanya dibutuhkan secara merata? Sebab, mayoritas pasti akan menjawab: logika matematika. Sementara saat menjamah sastra, budaya, sejarah, filsafat, dan humaniora bagaikan hal tabu—yang tak berguna untuk dilakukan. Karena kini, semuanya dihitung berdasarkan utilitas semata (Bouchardiere, 2025). Fenomena ini, dapat kita jumpai di berbagai lini kehidupan. Saat hendak menentukan pendidikan tinggi, masyarakat masih menilai bidang ilmu sains dan teknologi lebih berguna dibandingkan dengan ilmu sosial, humaniora, atau seni. Bahkan, saat memasuki dunia kerja, upah tinggi yang ditawarkan mayoritas berasal dari prodi sains. Akibatnya, banyak potensi manusia yang sebenarnya bernilai justru terpinggirkan karena tidak sesuai dengan standar dominan yang berlaku. Dunia yang Semakin Meninggalkan Humaniora Kecenderungan tersebut berkaitan erat dengan cara masyarakat modern memandang pendidikan. Perguruan tinggi semakin sering dipahami sebagai ruang produksi tenaga kerja, tempat mahasiswa dipersiapkan untuk memasuki pasar industri. Paradigma akademia pun perlahan beralih—menjadi perspektif kapitalis yang sarat akan untung-rugi. Nilai sebuah bidang studi kemudian dinilai dari seberapa besar kontribusinya terhadap produktivitas ekonomi. Dalam kerangka berpikir semacam ini, jurusan yang berhubungan dengan teknologi, teknik, atau sains sering dipandang memiliki prospek yang lebih jelas. Sebaliknya, bidang humaniora seperti sastra, filsafat, sejarah, atau kajian budaya kerap dianggap kurang menghasilkan keuntungan ekonomis secara langsung. Pandangan semacam ini sebenarnya berisiko mereduksi fungsi pendidikan itu sendiri. Kalau manusia hanya dihargai berdasarkan kegunaan ekonominya, maka kemampuan untuk berpikir kritis, merefleksikan nilai moral, atau memahami kompleksitas kehidupan sosial akan semakin terpinggirkan. Padahal, dimensi-dimensi tersebut turut membantu masyarakat mempertahankan kepekaan terhadap keadilan, kemanusiaan, dan keberagaman pengalaman hidup. Bayangkan, apa jadinya jika kita kehilangan ruang untuk bertanya, meragukan, dan membayangkan kemungkinan lain di luar logika pasar. Pendidikan pun akan berubah menjadi sekadar alat produksi, bukan proses pemanusiaan. Dalam jangka panjang, masyarakat bisa menjadi lebih patuh namun kurang reflektif, lebih terampil tetapi miskin empati. Di titik itulah, kita tidak hanya kehilangan makna pendidikan, tetapi juga kehilangan arah sebagai manusia yang utuh. Sesungguhnya, Kitalah yang Menyisihkan Manusia Lainnya Diskriminasi ini pada akhirnya mendorong kita untuk menyingkirkan berbagai kemampuan manusia yang tidak selalu dapat diukur secara ekonomis. Cara pandang ini mempersempit makna kecerdasan, seolah-olah hanya yang produktif secara pasar yang layak dihargai. Padahal, kemampuan untuk berpikir kritis, memahami kompleksitas sosial, serta merespons persoalan kemanusiaan justru menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab. Namun, tampaknya pemahaman empati tersebut berusaha direduksi. Sebab, banyak dari ilmu sains dan teknologi yang masih enggan mengintegrasikan pembelajarannya untuk memahami bagaimana dunia sosial dan humaniora bekerja. Akibatnya, lahir pendekatan-pendekatan yang cenderung parsial dalam melihat persoalan. Inovasi teknologi kerap diposisikan sebagai solusi netral, tanpa mempertimbangkan konteks sosial, budaya, maupun ketimpangan yang melingkupinya. Padahal, tanpa kepekaan terhadap realitas tersebut, teknologi justru berpotensi memperlebar jurang ketidakadilan—menguntungkan sebagian kelompok, sekaligus meminggirkan yang lain. Keterputusan antara sains, teknologi, dan humaniora membuat kita kehilangan kemampuan untuk membaca dampak jangka panjang dari setiap kemajuan. Kita menjadi terampil menciptakan sesuatu, tetapi kurang reflektif dalam mempertanyakan untuk siapa, dengan cara apa, dan konsekuensi apa yang akan ditanggung. Di titik ini, empati tidak lagi hadir sebagai landasan berpikir, melainkan dianggap sebagai pelengkap yang tidak mendesak. Faktanya, keterputusan tersebut berdampak langsung pada realitas sosial yang timpang. Di berbagai daerah terpencil, masih ada anak-anak yang belajar dari buku seadanya, dengan akses pendidikan yang sangat terbatas. Di sisi lain, tidak sedikit anak perempuan yang harus mengakhiri masa remajanya lebih cepat karena pernikahan dini. Data Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa praktik perkawinan sebelum usia 18 tahun di wilayah perdesaan mencapai sekitar 11,19 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan yang berada pada kisaran 4,21 persen. Kondisi ini menegaskan bahwa banyak potensi manusia tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk berkembang. Mereka bukan gagal karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena sistem yang belum sepenuhnya menghadirkan akses dan peluang yang setara. Dalam situasi seperti ini, absennya empati dalam cara kita memahami kemajuan justru memperkuat ketimpangan, alih-alih menguranginya. Merangkul Manusia yang Tersisih Zaman Sejarah intelektual dunia menunjukkan bahwa di tengah keterasingan dan keterbatasan, selalu ada individu yang memiliki daya untuk bertahan sekaligus melampaui zamannya. Tokoh seperti Albert Camus, Virginia Woolf, dan Mary Wollstonecraft menghadirkan gagasan-gagasan yang terus memengaruhi pemikiran lintas generasi, meskipun mereka tidak sepenuhnya diuntungkan oleh sistem pendidikan dan sosial pada masanya. Pengalaman keterasingan tidak membungkam mereka, tetapi justru menjadi sumber refleksi yang melahirkan keberanian intelektual. Albert Camus, misalnya, menulis novel terkenalnya The Stranger yang menggambarkan dunia yang diliputi disorientasi nilai dan trauma akibat perang. Karya-karyanya menjadi cermin kritis atas kondisi manusia yang penuh dengan absurditas, alienasi, dan penderitaan, sekaligus menawarkan sikap etis: bahwa manusia tetap dapat memilih kejujuran, empati, dan tanggung jawab moral. Sementara itu, Virginia Woolf, meski tidak mengenyam pendidikan universitas karena keterbatasan akses bagi perempuan, mampu mengembangkan pemikiran yang tajam melalui lingkungan intelektual di rumahnya (Agnes, 2018; EILeditor, 2023). Mary Wollstonecraft juga menunjukkan hal serupa melalui A Vindication of the Rights of Woman, dengan menegaskan bahwa ketimpangan perempuan bukanlah kodrat, melainkan akibat dari ketidaksetaraan akses pendidikan. Namun, penting untuk disadari bahwa tidak semua orang memiliki daya atau kesempatan yang sama untuk bertahan dalam keterasingan seperti mereka. Sebab, mengandalkan kisah individu yang berhasil melampaui sistem tidak cukup untuk menjawab persoalan yang lebih luas. Tanpa perubahan yang mendasar, diskriminasi dan penyisihan akan terus berulang—berujung meninggalkan banyak potensi manusia yang tidak pernah sempat berkembang karena terus tersisih zaman. Karena itu, yang dibutuhkan adalah reformasi struktural dalam cara kita memandang pendidikan, pengetahuan, dan nilai manusia itu sendiri. Sistem sosial perlu dibangun secara lebih inklusif—tidak hanya membuka akses, tetapi juga mengakui keberagaman latar belakang, pengalaman, dan bentuk kecerdasan. Integrasi antara sains, teknologi, dan humaniora menjadi penting agar perkembangan tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga pada keadilan dan kemanusiaan. Sebab, kita tak bisa membangun gedung pencakar langit tanpa mementingkan kehidupan manusia di sekitarnya yang akan digusur. Kita tak akan bisa membangun kota tanpa memahami dinamika sosial warganya, atau merancang teknologi kesehatan tanpa mempertimbangkan akses, budaya, dan ketimpangan yang memengaruhi siapa yang benar-benar dapat merasakannya. Bahkan dalam pengembangan kecerdasan buatan sekalipun, kita tidak cukup hanya memikirkan kecanggihannya, tetapi juga perlu mempertanyakan dampaknya terhadap pekerjaan, relasi sosial, hingga keadilan distribusi manfaatnya. Menghargai potensi manusia berarti membuka ruang bagi berbagai bentuk kecerdasan untuk berkembang. Jika pendidikan dan masyarakat hanya mengakui satu bentuk kecerdasan, maka kita sebenarnya sedang menyisihkan banyak manusia yang memiliki potensi berbeda. Padahal, justru keberagaman kemampuan itulah yang memungkinkan peradaban terus bergerak dan menemukan makna baru dalam setiap zamannya. Referensi: Agnes, T. (2018). Bagaimana Virginia Woolf Jadi Tokoh Sastra dan Feminis? DetikHot. https://hot.detik.com/book/d-3833457/bagaimana-virginia-woolf-jadi-tokoh-sastra-dan-feminis?utm Bouchardiere, M. La. (2025). Tolerating anti-intellectualism supports the ‘career-ification’ of university. Varsity2. https://www.varsity.co.uk/comment/28797 EILeditor. (2023). Virginia Woolf Biography. In Excellence in Literature: The Curriculum. Excellence in Literature. https://www.excellence-in-literature.com/virginia-woolf-biography/ Statistik, B. P. (n.d.). Proporsi Perempuan Umur 20-24 Tahun Yang Berstatus Kawin Atau Berstatus Hidup Bersama Sebelum Umur 18 Tahun Menurut Daerah Tempat Tinggal (Persen). In Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTM2MSMy/proporsi-perempuan-umur-20-24-tahun-yang-berstatus-kawin-atau-berstatus-hidup-bersama-sebelum-umur-18-tahun-menurut-daerah-tempat-tinggal.html EILeditor. (2023). Virginia Woolf Biography. In Excellence in Literature: The Curriculum. Excellence in Literature. https://www.excellence-in-literature.com/virginia-woolf-biography/ Patel, J. A. (2024). Multiple Intelligences : Beyond the IQ Test. 11(3), 2348–2350. Statistik, B. P. (n.d.). Proporsi Perempuan Umur 20-24 Tahun Yang Berstatus Kawin Atau Berstatus Hidup Bersama Sebelum Umur 18 Tahun Menurut Daerah Tempat Tinggal (Persen). In Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTM2MSMy/proporsi-perempuan-umur-20-24-tahun-yang-berstatus-kawin-atau-berstatus-hidup-bersama-sebelum-umur-18-tahun-menurut-daerah-tempat-tinggal.html
2 Comments
Muh. Arsyad
9/4/2026 06:26:18 pm
Tulisan The best, sangat mencerahkan dan menambah wawasan.
Reply
Nurhaedah
9/4/2026 06:31:11 pm
The best, tulisan ini menambah wawasan / hasanah keilmuan ...
Reply
Leave a Reply. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
March 2026
Categories |

RSS Feed