Dok. Asada Nami (Shutterstock) Yasyfa Nadhira (Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) “Belajar masak sana, nanti malu kalau udah nikah.” “Kamu sebagai calon ibu harus bisa urus rumah, jangan banyak ngeluh.” Di banyak keluarga, anak perempuan pertama tumbuh di dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, ia diperlakukan sebagai seorang anak. Namun, pada saat yang sama, ia dituntut untuk memiliki “kedewasaan” yang bahkan belum tentu dimiliki oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Sejak usia dini, ia diajarkan untuk memahami kebutuhan orang lain, menjaga adik-adiknya, serta membantu pekerjaan domestik. Dalam banyak situasi, “kedewasaan” tersebut bukanlah privilese yang dapat dipilih secara sadar, melainkan tuntutan moral yang dilekatkan melalui kebiasaan sehari-hari. “Kamu kan kakak, harus ngalah sama adik.” “Ingat, jadi contoh yang baik buat adik.” Sudah tidak asing lagi mendengar kalimat-kalimat di atas, bukan? Begitu sering diucapkan sambil lalu di meja makan, di ruang keluarga, di sela ibu melipat pakaian, atau ketika adik menangis karena mainannya direbut. Dalam banyak keluarga, kalimat tersebut bekerja sebagai mekanisme pendisiplinan gender yang begitu halus hingga nyaris tidak disadari. Dari sana, anak perempuan pertama mulai belajar bahwa dirinya harus lebih sabar, lebih bertanggung jawab, lebih memahami orang lain, dan lebih mampu menahan diri dibandingkan anak-anak lain dalam keluarga. Pada titik tertentu, banyak anak perempuan pertama tidak lagi tumbuh sepenuhnya sebagai anak. Mereka tumbuh sebagai perpanjangan tangan keluarga, khususnya orang tua. Belakangan ini, media sosial mempopulerkan istilah first-born daughter syndrome untuk menggambarkan pengalaman tersebut. Akan tetapi, reduksi pengalaman perempuan menjadi sekadar “sindrom” psikologis berisiko mengaburkan persoalan yang jauh lebih mendasar. Di baliknya, terdapat struktur patriarki yang mendistribusikan kerja domestik dan emosional secara tidak setara sejak masa kanak-kanak. Dengan kata lain, pengalaman anak perempuan pertama merupakan manifestasi dari cara masyarakat mereproduksi gender melalui institusi keluarga. Feminisme telah sejak lama menunjukkan bahwa keluarga juga merupakan ruang politik tempat relasi kuasa bekerja secara paling intim. “One is not born, but rather becomes a woman,” ucap de Beauvoir. Perempuan tidak dilahirkan begitu saja sebagai sosok “pengasuh” yang penuh pengorbanan. Mereka dibentuk menjadi demikian melalui proses sosial yang berlangsung terus-menerus, dan keluarga menjadi salah satu institusi paling penting dalam proses pembentukan tersebut. Data International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa perempuan secara global menghabiskan rata-rata 4 jam 25 menit per hari untuk pekerjaan perawatan tidak berbayar (unpaid care work), sementara laki-laki hanya sekitar 1 jam 23 menit. Dengan kata lain, perempuan melakukan lebih dari tiga kali lipat kerja domestik dan emosional dibandingkan laki-laki. Ketimpangan tersebut tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa, melainkan juga diwariskan melalui pola pengasuhan di dalam keluarga. Survei Penggunaan Waktu Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa perempuan Indonesia menghabiskan waktu jauh lebih besar untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan dibandingkan laki-laki, bahkan ketika keduanya sama-sama bekerja di ruang publik. Dengan demikian, pembebanan terhadap anak perempuan pertama bukanlah pengalaman personal yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari struktur sosial yang lebih luas. Ketimpangan tersebut membantu menjelaskan mengapa banyak anak perempuan pertama tumbuh dalam situasi yang oleh psikologi keluarga disebut sebagai parentification. Gregory Jurkovic mendefinisikan parentification sebagai kondisi ketika seorang anak mengambil peran emosional maupun domestik yang seharusnya dijalankan oleh orang dewasa. Anak menjadi “orang tua” bagi dirinya sendiri, bagi saudara-saudaranya, bahkan terkadang bagi orang tuanya juga. Mereka menjaga adik, membantu pekerjaan rumah, menjadi tempat curhat keluarga, menengahi konflik, serta memikul stabilitas emosional rumah tangga jauh sebelum mereka cukup dewasa untuk memahami beban tersebut. Persoalannya, beban semacam ini sangat sering jatuh kepada anak perempuan pertama. Banyak anak perempuan dibiasakan membantu ibu di dapur sementara saudara laki-lakinya bermain. Anak perempuan diminta mengalah ketika terjadi konflik. Mereka juga lebih sering dipuji ketika bersikap tenang, sabar, dan “tidak merepotkan”. Lambat laun, perempuan dibentuk untuk percaya bahwa merawat orang lain adalah bagian dari kodratnya. Silvia Federici menyebut kerja semacam ini sebagai reproductive labor, yakni kerja domestik dan emosional yang memungkinkan masyarakat terus berjalan, tetapi secara historis dianggap sebagai kewajiban alami perempuan sehingga tidak diakui sebagai kerja yang bernilai. Membersihkan rumah, menjaga adik, mendengarkan keluh kesah anggota keluarga, hingga memastikan kebutuhan emosional orang lain terpenuhi merupakan bentuk kerja yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat menentukan keberlangsungan kehidupan sosial. Ironisnya, karena kerja tersebut dilekatkan pada perempuan sebagai sesuatu yang “alamiah”, masyarakat gagal melihat bahwa ada tenaga, waktu, dan beban psikologis yang terus-menerus dikorbankan di dalamnya. Akibatnya, banyak anak perempuan pertama tumbuh dengan kemampuan membaca emosi orang lain secara berlebihan. Mereka terbiasa mengantisipasi kemarahan, memahami perubahan suasana hati, serta menjaga stabilitas emosional keluarga bahkan sebelum memahami emosinya sendiri. Dalam psikologi, situasi ini sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai hypervigilance, yakni kondisi ketika seseorang terus-menerus waspada terhadap lingkungan emosional di sekitarnya karena terbiasa hidup dalam tuntutan untuk menjaga keadaan tetap terkendali. Di satu sisi, kemampuan tersebut kerap dipuji sebagai tanda kedewasaan, empati, dan kecerdasan emosional. Akan tetapi, di sisi lain, kemampuan itu sering lahir dari kebutuhan untuk bertahan hidup dalam relasi yang timpang. Lisa Hooper menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami parentification memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, kesulitan membangun batas emosional (boundaries), serta kecenderungan untuk menekan kebutuhan dirinya sendiri demi orang lain. Tidak sedikit dari mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa bersalah ketika beristirahat atau meminta bantuan. Dalam konteks masyarakat kontemporer, situasi tersebut semakin kompleks karena budaya populer justru sering meromantisasi kondisi itu melalui citra strong independent woman. Perempuan didorong untuk menjadi tangguh, produktif, sukses, dan mampu mengatasi semuanya sendiri. Sekilas, narasi ini tampak progresif karena menunjukkan perempuan sebagai sosok yang mandiri dan berdaya. Namun, di baliknya tersembunyi logika neoliberal yang berbahaya: perempuan kembali dituntut untuk terus bertahan tanpa benar-benar diberi ruang untuk rapuh.
Rosalind Gill menyebut fenomena ini sebagai bagian dari postfeminist culture, yaitu situasi ketika bahasa pemberdayaan perempuan digunakan bersamaan dengan reproduksi tuntutan lama terhadap perempuan. Perempuan memang tampak “bebas”, tetapi kebebasan tersebut sering kali tetap dibangun di atas ekspektasi bahwa mereka harus mampu mengurus semuanya sekaligus—karier, relasi, keluarga, emosi, bahkan kesehatan mentalnya sendiri. Dalam konteks ini, kemandirian perempuan perlahan berubah menjadi kewajiban moral. Tidak mengherankan jika banyak anak perempuan pertama tumbuh menjadi perempuan dewasa yang kesulitan beristirahat. Mereka merasa bersalah ketika tidak produktif. Mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang. Bahkan ketika lelah, mereka tetap merasa harus selalu kuat. Allison Daminger dalam penelitiannya mengenai mental load menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya melakukan pekerjaan rumah tangga secara fisik, tetapi juga memikul beban kognitif yang tidak terlihat: mengingat, merencanakan, mengantisipasi kebutuhan keluarga, serta memastikan semuanya berjalan baik. Dengan kata lain, perempuan sering kali tidak pernah benar-benar “berhenti bekerja”, bahkan ketika tubuh mereka sedang diam. Di sinilah persoalan first-born daughter menjadi penting untuk dibicarakan secara lebih kritis. Selama ini, pengalaman tersebut sering direduksi menjadi sekadar identitas lucu di media sosial atau karakter personal perempuan yang “terlalu dewasa.” Padahal, yang sedang bekerja sesungguhnya adalah struktur patriarki yang mendistribusikan kerja perawatan secara tidak adil kepada perempuan sejak masa kanak-kanak. Ketika anak perempuan terus-menerus diminta mengalah, memahami orang lain, dan menjadi penyangga emosional keluarga, masyarakat sesungguhnya sedang melatih perempuan untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Karena itu, solusi atas persoalan ini tidak dapat berhenti pada anjuran individual seperti self-care, healing, atau liburan sesaat. Tentu hal-hal tersebut penting, tetapi persoalannya jauh lebih struktural. Hal yang perlu dipertanyakan bukan hanya bagaimana perempuan dapat beristirahat, melainkan mengapa perempuan sejak awal dibebani tanggung jawab emosional yang tidak dibagi secara adil. Mengapa anak perempuan dianggap lebih “wajar” membantu pekerjaan rumah? Mengapa perempuan lebih sering diposisikan sebagai penjaga harmoni keluarga? Mengapa perempuan yang memilih dirinya sendiri masih kerap dianggap egois? Feminisme, dalam hal ini, mengajak kita melihat ulang hal-hal yang selama ini dianggap biasa. Sebab patriarki jarang bekerja secara kasar dan terang-terangan. Ia justru hidup melalui kebiasaan sehari-hari yang diwariskan terus-menerus atas nama cinta, tanggung jawab, dan kedewasaan. Tuntutan untuk “mengerti” dan “berkorban” sering diberikan kepada perempuan justru karena mereka dicintai. Karena seakan-akan dibungkus oleh kasih sayang, beban tersebut menjadi sulit dikenali sebagai ketidakadilan. Pada akhirnya, anak perempuan pertama bukanlah manusia yang secara alami dilahirkan untuk menjadi “ibu kedua”, penanggung jawab emosi keluarga, atau simbol pengorbanan tanpa batas. Mereka juga berhak menjadi anak-anak yang bisa marah, gagal, bingung, egois, dan meminta pertolongan. Mereka berhak tumbuh sebagai individu yang utuh, bukan semata-mata sebagai penjaga kehidupan orang lain. Mungkin banyak anak perempuan pertama tumbuh dengan belajar merawat semua orang, kecuali dirinya sendiri. Karena itu, salah satu langkah paling penting dalam feminisme hari ini bukan hanya mengajarkan perempuan untuk menjadi kuat, melainkan memastikan bahwa perempuan akhirnya memiliki ruang untuk menjadi manusia sepenuhnya. Referensi Badan Pusat Statistik & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2018). Statistik gender tematik: Profil generasi milenial Indonesia. Badan Pusat Statistik. Beauvoir, S. de. (2011). The second sex (C. Borde & S. Malovany-Chevallier, Trans.). Vintage Books. (Original work published 1949) Daminger, A. (2019). The cognitive dimension of household labor. American Sociological Review, 84(4), 609–633. https://doi.org/10.1177/0003122419859007 Federici, S. (1975). Wages against housework. Falling Wall Press. Gill, R. (2007). Postfeminist media culture: Elements of a sensibility. European Journal of Cultural Studies, 10(2), 147–166. https://doi.org/10.1177/1367549407075898 Hooper, L. M. (2007). The application of attachment theory and family systems theory to the phenomena of parentification. The Family Journal, 15(3), 217–223. https://doi.org/10.1177/1066480707301290 International Labour Organization. (2018). Care work and care jobs for the future of decent work. International Labour Office. https://www.ilo.org/global/publications/books/WCMS_633135/lang--en/index.htm Jurkovic, G. J. (1997). Lost childhoods: The plight of the parentified child. Brunner/Mazel.
0 Comments
Leave a Reply. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
April 2026
Categories |

RSS Feed