Dok. Rumah Produksi Ester Veny Novelia Situmorang (Mahasiswa S-1 Filsafat, Universitas Gadjah Mada) Di tengah gedung bergaya futuristik, sebuah operasi persalinan tengah dilakukan oleh dua orang dokter perempuan. Dari ujung kepala hingga kaki, kedua dokter ini dibalut dengan pakaian medis berwarna merah, menyatu dengan warna darah yang keluar dari bekas hasil sayatan perut perempuan hamil yang perlu mereka selamatkan. Kedua dokter ini adalah Elliot dan Beverly Mantle, dua perempuan kembar yang memilih pekerjaan sebagai dokter kandungan dan membangun sebuah fasilitas kesehatan ibu hamil dan persalinan. Kisah keduanya dikemas dalam sebuah serial drama terbatas berjudul Dead Ringers (2023) yang ditayangkan dalam platform layanan berbayar Amazon Prime. Serial ini terdiri dari 6 buah episode yang disutradarai oleh Sean Durkin, Karena evans, Lauren Wolkstein, dan Karyn Kusama. Awalnya, kisah ini adalah karya asli David Cronenberg pada tahun 1988. Cronenberg menggunakan genre psikologi thriller untuk menarasikan bagaimana rasa sakit yang muncul dari kehamilan dan persalinan yang menjadi pengalaman ketubuhan perempuan. Kisah Cronenberg ini kemudian dituliskan ulang oleh Alice Birch, penulis skenario dan drama asal Inggris, yang telah menuliskan banyak kisah pengalaman perempuan lainnya. Rachel Weisz menjadi pemeran utama dalam serial ini berhasil mengeksekusi peran ganda yang harus dilakoninya, menjadi Elliot dan Beverly Mantle. Ia bisa menjadi dua karakter yang berbeda, Elliot sebagai kakak yang memiliki ambisi dan ide-ide liar yang sangat besar dan sangat ekspresif, sedangkan Beverly menjadi kembaran yang penuh dengan keragu-raguan, kelembutan, dan sangat menyukai keteraturan. Semenjak dilahirkan, keduanya belum pernah hidup terpisah. Mereka secara tidak sadar sudah membentuk ketergantungan satu sama lain dan saling menghidupi ambisi satu sama lain. Namun, kedekatan mereka secara tak langsung telah menunjukkan posisi perempuan yang hidup dalam masyarakat yang dipaksa untuk bergantung dengan orang lain untuk bertahan hidup. Ketergantungan ini secara tak langsung telah diromantisasi masyarakat dan mengakibatkan identitas perempuan dikaitkan dengan sifat yang relasional untuk memastikan mereka bisa bertahan hidup. Selain menunjukkan ikatan keduanya sebagai saudara yang sangat erat, serial ini juga bisa dikaji menggunakan kacamata feminisme. Dalam serial ini, bisa dilihat bahwa tubuh perempuan tidak lagi dijadikan sebagai objek seperti dalam kisah Cronenberg, melainkan menjadi substansi paling penting dalam kehidupan. Pasalnya, serial ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan menjadi kekuatan paling besar dan menjadi wacana paling liar untuk dikapitalisasi. Serial ini menunjukkan bagaimana proses natural manusia dikomersialisasikan lewat perangkat-perangkat berupa sistem medis, sosial, dan ekonomi.
Alih-alih memberikan ruang dan kesempatan yang cukup bagi perempuan untuk merasakan kehamilan dan persalinan sebagai sebuah proses yang natural, institusi medis dalam mendukung keuntungan kapital dan didukung oleh romantisme sosial telah mengubah kehamilan dan persalinan sebagai produk kapital. Serial ini menunjukkan kenyataan bahwa perempuan nyatanya tetap direpresi secara tidak langsung atas kemampuan reproduksinya sendiri. Perempuan hidup dalam bayangan akan “kesuburan” adalah tanggung jawab perempuan sehingga sistem medis kebanyakan hanya menawarkan produk-produk seperti perawatan kesuburan, grafis persalinan, dan produk-produk ginekologis lainnya. Secara tidak langsung, serial ini mengalamatkan kritiknya kepada institusi medis yang sebenarnya sejak dahulu kala hingga di masa modern, cabang medis ginekologi dan obstetri adalah cabang medis yang mengobjektifikasi tubuh perempuan. Cabang medis ini bukan lah ilmu netral, pasalnya sejarah bidang ilmu ini hidup dan dihidupi oleh eksperimen kepada perempuan. Sebut saja persoalan keguguran yang harus terjadi dalam persalinan dan dirasakan oleh perempuan. Alih-alih melihatnya sebagai proses natural dan perempuan berhak untuk merasakan kesedihan atas pengalaman tersebut, ginekologi melihatnya sebagai sebuah masalah ketubuhan perempuan dan perlu untuk dikelola. Dalam serial ini, ambisi Mantle bersaudara untuk menciptakan fasilitas kesehatan ibu hamil dan persalinan menunjukkan bagaimana ambisi institusi kesehatan berfokus ke dalam efisiensi dan penghindaran risiko atas kehamilan daripada otonomi dan pengalaman ketubuhan pasien—perempuan. Penggambaran ini sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh Sosiolog Inggris Ann Oakley bahwasannya kehamilan dan persalinan telah termedikalisasi dengan baik sebagai sebuah kondisi patologis. Dalam prosesnya, tubuh perempuan telah dirampas otonominya dengan cara pengelolaannya yang di taruh di bawah ahli, yang mana itu adalah laki-laki (Oakley, 1984). Tak hanya menunjukkan sisi kehamilan yang telah dihegemoni, serial ini juga menunjukkan bagaimana kondisi kehamilan yang sesungguhnya. Kehamilan ditunjukkan sesuai dengan realitanya bahwa persalinan adalah proses yang menyakitkan, penuh dengan darah, dan tak boleh dipandang jijik. Dengan menunjukkan sisi “horor” tersebut, stigma yang dipertahankan sejak lama bahwa persalinan adalah proses yang menjijikkan ditentang secara terang-terangan. Melihat persalinan sebagai proses yang menjijikkan sama saja dengan melanggengkan pandangan patriarkal dalam melihat tubuh perempuan. Realitas biologis tubuh perempuan seolah dibungkam selama ini, dipaksa untuk tenggelam dalam romantisasi sanitasi yang berlebihan. Rasa sakit perempuan dibiarkan hadir di dalam serial ini, melalui visual darah, organ tubuh, dan trauma psikis yang harus dialami perempuan dari proses kehamilan dan persalinan. Selain mengalamatkan kritik tersebut, serial ini juga berhasil untuk menunjukkan realita pasangan dari negara maju memperlakukan perempuan dari negara berkembang atau terbelakang sebagai “ibu pengganti”. Komodifikasi perempuan dilakukan secara terang-terangan, proses reproduksi perempuan berupa kehamilan adalah transaksi, dan tubuh perempuan seolah menjadi mesin semata. Surogasi kenyataannya tidaklah layak bagi upaya mempertahankan hak-hak perempuan. Komodifikasi perempuan yang terjadi dalam surogasi telah memberikan ancaman terhadap kerja-kerja reproduksi perempuan (Arneson, 1992). Alih-alih untuk meneruskan komodifikasi yang demikian, dalam serial ini Mantles’ berhasil untuk memutar kemudi kehamilan ibu pengganti, dengan cara melakukan eksperimen penggabungan DNA dan “penciptaan” bayi di luar tubuh perempuan. Terang saja, ada banyak perdebatan etis yang bisa dilontarkan kali ini, tetapi itu bukanlah fokus utamanya. Keinginan dokter kembar ini adalah fokus yang ingin ditunjukkan kali ini, bagaimana perempuan bisa berhenti menjadi mesin. Sayangnya, ambisi murni dari Mantle bersaudara tidak bisa diterima secara murni karena mereka tetap menggunakan modal ekonomi dari kelompok kapital yang hanya mengutamakan keuntungan. Pengutamaan keuntungan ini secara langsung juga diungkapkan langsung oleh Beverly kala calon investor yang akan mendanai fasilitas kesehatannya menolak untuk memberikan pendanaan jika fasilitas tak menghasilkan uang sama sekali. Dalam pertemuan kedua dokter dan calon-calon investornya mempertanyakan niat baik dari kedua dokter ini, Beverly mengatakan, “... kalian adalah orang-orang buruk. Jika dibagikan, orang terburuk. Kemanusiaan benar-benar kacau. Kalian mempertahankan wajah, vagina, dan jari-jari, tetapi tidak mempertahankan umat manusia dalam pendefinisian apa pun.” Setelah menyatakan pandangannya, para investor bersedia menggelontorkan sejumlah dana dan mulailah perjalanan Mantles’ bersaudara untuk menjalankan misi dan ambisi mereka di fasilitas kesehatannya. Menariknya, dengan menggunakan pendanaan yang berupaya mengkomodifikasi tubuh manusia, saya sendiri melihat bahwa upaya ini adalah salah satu jalur yang dengan berat hati harus ditempuh. Pasalnya, dengan tindakan ini beberapa hak persalinan perempuan bisa terwujud walaupun belum bisa dengan setara dan inklusif menunjukkan perkembangan yang baik. Dead Ringers menjadi sebuah serial horor yang menarasikan kondisi sebenarnya dari pengalaman ketubuhan perempuan saat menjalani proses kehamilan dan persalinan. Serial ini tidak menggunakan sisi horor sebagai media untuk memainkan aspek psikologis penontonnya dan menakut-nakuti, melainkan menjadi sebuah analisis penting dalam menunjukkan bagaimana perempuan diobjektifikasi, dikomodifikasi, dan direpresi lewat pengalaman ketubuhannya sendiri. Daftar Pustaka Arneson, R. J. (1992). Commodification and Commerical Surrogacy. Philosophy & Public Affairs, 21(2), 132–164. Oakley, A. (1984). The Captured Womb: A History of the Medical Care of Pregnant Women. Blackwell.
0 Comments
Leave a Reply. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
November 2025
Categories |

RSS Feed