Dok. Rumah Produksi Putri Nurfitriani (Mahasiswa S-2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) Ted Lasso (2021–2023) berkisah tentang seorang pelatih sepak bola Amerika Serikat asal Kansas yang tiba-tiba direkrut untuk melatih klub sepak bola Inggris, AFC Richmond. Masalahnya: Ted sama sekali tidak mengerti sepak bola Inggris. Bahkan Ted tak tahu aturan sepak bola Inggris seperti offsides, tak kenal nama pemain top Eropa, dan budaya Inggris pun membuatnya kagok. Ted yang optimis—atau mungkin terlalu optimis—dan the definition of the ray of sunshine, datang dengan keyakinan bahwa orang akan berkembang jika dipercaya. Selama series ini berjalan, Ted selalu mencoba mengubah ruang ganti yang maskulin, penuh ego dan luka melalui empati, humor, dan keberanian untuk membuka diri. Serial ini kemudian berkembang dari sekadar cerita underdog menjadi kisah yang tanpa sadar menyembuhkan: tentang kesehatan mental, hubungan kerja yang sehat, maskulinitas yang sehat, hingga persahabatan yang tidak disangka-sangka. Rebecca Welton (pemilik AFC Richmond), mempekerjakan Ted pada awalnya untuk menghancurkan AFC Richmond yang merupakan klub yang sangat disayangi oleh mantan suaminya yang berselingkuh berkali-kali. Ted menempuh perjalanan jauh dari Amerika ke Inggris pun bukan tanpa alasan, Ted sendiri sedang diterpa masalah dalam pernikahannya. Ia pikir, dengan jarak yang ia beri kepada istrinya—yang kemudian akan menjadi mantan istri juga—akan menyelamatkan pernikahannya. Selama season satu berjalan, kita akan melihat kelumit hubungan Rebecca dengan Ted. Ted yang konsisten membawa biskuit untuk Rebecca setiap pagi sebagai caranya untuk bonding bersama Rebecca—dan ternyata biskuitnya Ia buat sendiri! –Rebecca yang masih membawa luka dari perceraiannya dan terlebih disorot media dengan berita-berita yang misoginistik, akan memiliki hubungan persahabatan yang sangat hangat setelah Rebecca mengaku dan meminta maaf kepada Ted bahwa ia hanya mempekerjakan Ted untuk menghancurkan klubnya, dan Ted memaafkannya. Character development dan persahabatan dari para tokoh juga begitu hangat dan wholesome. Sebagaimana persahabatan Rebecca dengan Keeley—yang merupakan mantan pacar dari dua pemain AFC Richmond—saling mendukung dengan power mereka masing-masing. Latar belakang perilaku Jamie Tartt (salah satu pemain AFC Richmond yang cukup menyebalkan di awal-awal cerita) hingga perkembangan karakteristik yang hangat, dan persahabatan yang tidak diduga-duga tetapi begitu hangat antara Roy Kent yang merupakan kapten dan akan menjadi pelatih AFC Richmond, yang awalnya bermusuhan dengan Jamie lalu berkembang menjadi persahabatan yang menggelitik. Jika disimpulkan dengan analogi, rasanya menonton Ted Lasso seperti rebahan di kasur yang nyaman, berselimut, bersama orang terkasih sembari tertawa, dan meminum cokelat hangat—seperti dipeluk dengan kasih! Ted Lasso yang pada awalnya terkesan membosankan bagi saya dahulu saat belum menyukai sepak bola, yang saya pikir hanya tentang sepak bola dan adalah series dengan maskulinitas yang toksik, berubah menjadi series yang saya tonton ketika saya merasa butuh dipeluk. Humor Inggris yang dry tetapi selalu berhasil membuat saya tergelitik, Ted yang humoris ala midwestern Amerika, Rebecca yang fierce sekaligus caring, Roy yang selalu memaki dan terkesan temperamental tetapi sebetulnya hangat, Jamie dengan character development-nya yang luar biasa, Coach Beard yang berbicara seadanya tetapi sangat observan, Sam Obisanya yang memberikan kehangatan lewat hubungan dengan ayahnya dan merupakan pemain yang woke sekali, Dani Rojas (karakter favorit penulis!) yang bisa disebut sebagai manusia golden retriever, dan semua karakter Ted Lasso, dengan cerita dan perkembangan masing-masing yang luar biasa, betul-betul menghangatkan hati dengan pelajaran hidup yang dalam. Dare to say, Ted tidak hanya melatih AFC Richmond, ia pun menjadi coach bagi penonton. Namun, kehangatan Ted Lasso tampaknya tidak begitu disukai oleh banyak pihak. Beberapa komentar yang saya temui ketika riset soal tulisan ini, banyak yang menganggap berbeda. Mulai dari kritik tidak akurat tentang permainan sepak bola--well, Ted Lasso bukanlah dokumenter, melainkan serial drama. Banyak pula komentar laki-laki—khususnya penyuka sepak bola—yang penulis temui tidak suka dengan cerita Ted yang dianggap terlalu menye-menye dan banyak drama. Bahkan, ada komentar di The Guardian yang penulis temui, bahwa ada banyak orang yang tidak menyukai Ted Lasso karena dianggap terlalu ‘lecturing’, overrated, atau sekadar ‘tidak tertahankan untuk ditonton’. Tetapi, ada satu komentar dari akun Gurgle yang menuliskan bahwa, ‘Hal yang saya sukai dari Ted Lasso adalah serial ini mengambil sesuatu yang biasanya dianggap sangat negatif, yaitu budaya ruang ganti, dan membahas betapa positifnya hal itu bisa menjadi. Di setiap tim olahraga di seluruh dunia, ada momen-momen kecil kebaikan dan dukungan yang terjadi antara rekan tim, dan bagi banyak laki-laki, ini adalah satu-satunya waktu mereka mendapatkan jenis dukungan seperti itu. Saya merasa senang bahwa hal ini akhirnya digambarkan dengan cara yang baik’ (Golby, 2023). Ted Lasso tidak hanya menampilkan proses melatih pemain AFC Richmond dan tokoh-tokoh dalam serialnya, isu-isu krusial lainnya juga ditonjolkan. Mulai dari bullying dalam ruang ganti yang begitu maskulin, hubungan orang tua dan anak—baik yang hipermaskulin dan toksik seperti Jamie dan ayahnya, hingga hubungan hangat antara Sam dan ayahnya—ada pula isu sponsor klub sepak bola yang ternyata merusak alam dan diakhiri dengan solidaritas yang hangat antarpemain, budaya toksik penggemar sepak bola dengan klub dan pemainnya, penyebaran konten non-consensual intimate image (NCII) dan penyelesaian masalah yang menyayat hati, hingga masalah identitas pemain dalam lingkup olahraga yang begitu biner dan maskulin. Dalam sebuah riset karya Leanna Brown, maskulinitas pada atlet sepakbola laki‑laki ditunjukkan lewat penekanan pada kekuatan fisik, ketangguhan, dan penekanan emosi yang harus hadir tanpa rasa sakit. Maskulinitas dianggap sebagai posisi yang meliputi kekuatan, kekerasan, kekuasaan, dan privilege, serta menekankan bahwa hegemonik maskulinitas adalah pola praktik yang melegitimasi dominasi pria dan menyingkirkan feminitas. Pada akhirnya, para pemain menganggap sepakbola sebagai simbol utama identitas mereka, mereka mengidentifikasi diri terlebih dulu sebagai ‘football player’ dan mengaitkan keberhasilan di lapangan dengan rasa bangga dan status sosial. Muncul pula narasi ‘hurt‑you get out there and play’ serta label ujaran degradatif bagi yang berhenti karena cedera, menandakan bahwa menahan rasa sakit dipandang sebagai bukti maskulinitas. Demikian, hubungan antara pemain sepak bola laki-laki dan penggemar sering bersifat toksik karena kedua pihak saling memperkuat citra maskulinitas yang berlebihan. Di lapangan, banyak slogan-slogan menegaskan nilai kekerasan atau sebagai bagian dari identitas pemain dan sebaliknya, merendahkan identitas ketika melakukan kesalahan (Brown, 2019). Dalam sebuah artikel, disebutkan bahwa ada masalah serius dengan budaya maskulinitas dalam olahraga laki-laki, budaya yang mengharuskan laki-laki, bahkan anak laki-laki untuk menyesuaikan diri daripada mencari bantuan, dan bertahan daripada mundur. Budaya diam dan perundungan ini membuat laki-laki enggan berbicara tentang keamanan dan pelecehan seksual. Hal ini telah menciptakan lingkungan di mana laki-laki merasa tertekan untuk diam tentang kesehatan mental mereka. Dalam sebuah podcast, salah satu mantan pemain sepak bola Inggris, Thierry Henry mengatakan bahwa, “Sejak kecil, baik di rumah maupun di tempat kerja, kamu telah diajarkan, ‘Jangan jadi orang seperti itu, jangan tunjukkan bahwa kamu lemah.’ Jika menangis, apa yang akan orang pikirkan” (Kehler & Knott-Fayle, 2024). Lalu, apa hubungan antara perempuan, Ted Lasso, sepak bola laki-laki dan maskulinitas yang toksik dalam sepak bola laki-laki? Maskulinitas toksik menyiarkan idealisme atau perilaku maskulin tradisional seperti dominasi laki-laki, represi emosi bagi laki-laki, yang dapat mendorong agresivitas dan rasa superioritas laki-laki dengan mengorbankan kepentingan komunitas dan ekspresi emosional. Kita dapat melihat hasil dari maskulinitas yang toksik ini dalam ujaran hinaan dalam sepak bola yang mengaitkan segala hal dengan feminin = lemah. Misal, dalam penggunaan kalimat ‘mainnya kayak cewek’ ‘such a p*ssy’, ‘lemah banget kayak cewek’ sebagai hinaan. Ada pula ungkapan ‘laki-laki nggak boleh nangis’. Terlihat pula dalam sosialisasi laki-laki yang menormalisasi kekerasan dan perilaku agresif, karena selalu ada anggapan ‘namanya juga laki-laki’. Juga, ketika laki-laki dianggap tangguh jika menahan emosi dibanding membuka diri. Idealisme maskulin tradisional yang toksik dan peran gender yang kaku ini berkaitan secara langsung dengan peningkatan insiden depresi dan bunuh diri pada laki-laki, serta—tentu saja—kekerasan terhadap perempuan, seperti pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Maskulinitas toksik yang menyiarkan ide bahwa hanya ada satu cara untuk menjadi laki-laki, dan laki-laki harus dominan, agresif, dan bebas dari emosi adalah jenis maskulinitas yang memaksa laki-laki untuk hidup dalam batasan peran gender yang kaku dan sempit. Akhirnya, perempuan menjadi korbannya (Fenwick, 2018). Cemoohan dalam sepak bola laki-laki yang merendahkan perempuan, sangat memengaruhi kehidupan di luar lapangan dan stadion. Represi emosi yang dikekang oleh pemain sepak bola di lapangan dan ketika bekerja, akhirnya lepas di rumahnya—atau bahkan luar rumahnya. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pemain sepak bola laki-laki[1]. Jangankan bicara soal atlet sepak bola perempuan yang tidak mendapat dukungan yang sama, atau bahkan dianggap laganya tidak seru karena ‘mainnya lemah’. Penggemar sepak bola perempuan pun dilihat sebelah mata. Dengan kultur yang begitu toksik dan maskulin, betapa sempit ruang bagi penikmat sepak bola perempuan. Harus ada berbagai syarat untuk betul-betul bisa dianggap sebagai penggemar atau penikmat. Kultur sepak bola yang begitu biner, maskulin, dan toksik berusaha dipatahkan oleh serial Ted Lasso dengan berbagai drama dan pelajarannya. Ted yang akhirnya berani membuka diri di terapi, pemain-pemain lain yang tidak sungkan untuk ikut terapi dengan psikolog di klub, penerimaan diri masing-masing pemain, pelajaran yang diberi Ted di ruang ganti dan di luar ruang ganti, hingga isu-isu yang jarang diangkat dalam film atau serial tentang sepak bola berhasil dikemas dengan humor dan pelajaran menenangkan dari Ted Lasso. Ted Lasso berusaha menggambarkan suatu dunia sepak bola yang semua orang dapat hadir dan berkembang bersama. Ted Lasso berusaha menggambarkan bahwa semua orang dapat menjadi versi terbaik dari dirinya dan menjadi pemenang tanpa merendahkan orang lain. Sejatinya, keamanan dan kenyamanan dalam hal apapun adalah milik semua. Baik itu meluapkan dan menunjukkan emosi—tentu tanpa menyakiti pihak lain—menjadi vulnerable, menangis, bermain bagus atau bahkan kurang bagus, memenangkan pertandingan, menyukai sesuatu, mendukung sesuatu, hidup nyaman tanpa cemoohan dan tekanan, berbangga dengan diri dan identitas, hingga hidup tanpa kekerasan dan dominasi, adalah hak semua orang tanpa terkecuali. Seperti yang dikatakan Ted—walau ucapan ini dikatakan ketika Ted akan berpisah dengan Michelle, tetapi dapat diresapi bersama: “Most of the time, change is a good thing and I think that’s what it’s all about–embracing change, being brave, doing whatever you have to so everyone in your life can move forward with theirs, and maybe it’s the only way you can truly make her be happy." Tentu perubahan kepada dunia yang aman dan nyaman bagi semua, membutuhkan perubahan dan menjadi berani. Berani melawan, berani berubah, berani membuka diri, dan berani berbeda. Itulah yang memberikan kebahagiaan bagi semua, ketika kita berjuang—baik personal maupun kolektif—bagi perubahan, kita akan memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan, agar yang kita kasihi, dapat berbahagia dan tentu hidup dengan aman dan nyaman.
Referensi: Brown, L. (2019). A Qualitative Study of the Possible Link Between Masculinity and Aggression Among College Football Players [Texas A&M University]. Diakses dari https://digitalcommons.tamuc.edu/honorstheses/34 Fenwick, K. (2018, June 21). Football clubs can end toxic masculinity, but first they need to talk about it. The Guardian. Diakses dari https://www.theguardian.com/sport/2018/jun/22/football-clubs-can-end-toxic-masculinity-but-first-they-need-to-talk-about-it Golby, J. (2023, March 11). Ted Lasso: I tried to resist, but this comedy has perfected a rare Friends-like TV magic. The Guardian. Diakses dari https://www.theguardian.com/tv-and-radio/2023/mar/11/ted-lasso-i-tried-to-resist-but-this-comedy-has-perfected-a-rare-friends-like-tv-magic Kehler, M., & Knott-Fayle, G. (2024, February 1). Suffering in silence: Men’s and boys’ mental health are still overlooked in sport. The Conversation. Diakses dari https://theconversation.com/suffering-in-silence-mens-and-boys-mental-health-are-still-overlooked-in-sport-221969 Catatan kaki: [1] Dapat dibaca lebih lanjut beberapa kasus kekerasan seksual oleh pemain sepak bola dalam tulisan Mojok: https://mojok.co/balbalan/kekerasan-seksual-pemerkosaan-sisi-gelap-sepak-bola/
0 Comments
Leave a Reply. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
November 2025
Categories |

RSS Feed