Dok. Annie Spratt (diambil dari Unsplash.com) Khairullah Arsyad (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin) Refleksi atas keterasingan, intelektualitas, dan keadilan potensi manusia dalam dunia yang semakin utilitarian Dalam banyak ruang kehidupan modern, nilai manusia semakin sering diukur melalui angka, skor, dan produktivitas. Penilaian melalui tes, peringkat akademik, hingga sertifikasi profesional membentuk keyakinan bahwa hanya kecerdasan tertentu terutama yang bersifat numerik dan saintifik yang layak diakui. Mahasiswa yang tidak mencapai nilai minimal dalam Tes Potensi Akademik (TPA) atau kemampuan bahasa Inggris sering kali dianggap tidak cukup layak untuk memasuki ruang akademik, apalagi bersaing dalam dunia kerja.
2 Comments
Karya Kolase Pribadi “Bersama Tanpa” | Dok. Davina Dachi Davina Dachi (Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) “Kematian itu niscaya, lantas, buat apa bersedih?” Demikian ucapan yang sering dilontarkan kepada seseorang yang berduka akan kehilangan orang yang disayanginya. Tangisan dianggap tidak berguna. Duka dianggap harus hanya sesaat singkat. Mungkin saja bahwa pernyataan seperti itu bermaksud untuk membangun kembali kekuatan dalam menjalani masa-masa kelam ini. Akan tetapi, peristiwa berkabung menjadi sangat sempit dengan segala aturan yang disematkan padanya. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
April 2026
Categories |


RSS Feed