Biodata Penerima Beasiswa THS 2026
Dian Prawitasari, mahasiswa S-2 Kajian Gender, Universitas Indonesia. Selama lebih dari lima tahun, ia berkontribusi di Komnas Perempuan, mulai dari relawan Unit Pengaduan untuk Rujukan hingga Staf Divisi Pemantauan yang mendokumentasikan dan menganalisis kasus kekerasan terhadap perempuan dari perspektif korban. Ia pernah menjadi Staf Kampanye Strategis di Solidaritas Perempuan. Latar belakang pendidikannya di Fakultas Ekologi Manusia IPB, pengalaman pelatihan bantuan hukum di LBH Jakarta dan Sekolah Literasi Ekofeminis, membuatnya sadar penting melihat hubungan antara tubuh, lingkungan dan ketidakadilan gender secara bersamaan. Ia belajar menuangkan gagasan tersebut melalui karya populer seperti zine dan kampanye yang mengutamakan suara perempuan akar rumput.
- Gelsi Ayla Shiva, biasanya dipanggil Gelsi. Saya adalah seorang mahasiswa S1 yang berkuliah di Jurusan Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia di semester 4. Saya lahir di Palembang, 15 Februari 2007 yang berarti sekarang saya berusia 19 tahun. Saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Hampir 2 tahun berkuliah di jurusan filsafat membuat saya semakin tertarik kepada isu-isu sosial yang cenderung inferior, seperti isu patriarki, pelanggaran dan kurangnya perlindungan HAM dari pemerintah terhadap rakyat, ketimpangan ekonomi sosial, dsb. Lingkungan sekitar saya yang sekarang sangat mendorong saya untuk mendukung penyelesaian dan menelaah isu-isu tersebut secara kritis.
Incelina Nahabial, mahasiswa Program Studi Ilmu Sosial Keagamaan di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon. Berasal dari Kecamatan Benawa, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan, ia merupakan perempuan pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan hingga jenjang S1. Ia terus bertumbuh melalui pendidikan, literasi, dan semangat belajar. Ia memiliki minat pada isu sosial, teologi feminis, keadilan gender, dan penguatan komunitas. Melalui proses belajar, membaca, dan menulis, Incelina berharap dapat memberi dampak baik bagi komunitas dan lingkungan sekitarnya. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang mengubah masa depan diri sendiri, tetapi juga membuka jalan dan harapan bagi perempuan-perempuan lain dari tempat ia berasal.
Desi Fajar Permatasari, mahasiswa Magister Kajian Wanita Universitas Brawijaya, bidan, penulis, dan pegiat isu perempuan yang aktif pada isu kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, dan perlindungan perempuan. Ia terlibat dalam berbagai ruang pemberdayaan perempuan, termasuk mengikuti program asistensi paralegal bersama WCC Dian Mutiara Parahita serta aktif dalam kegiatan Forum PUSPA Kendedes Kota Malang terkait peningkatan partisipasi perempuan dan inklusi sosial. Selain menjadi inisiator Komunitas KesproKU, Desi juga aktif menulis karya ilmiah dan populer mengenai kesehatan mental ibu, kesehatan reproduksi, dan isu sosial perempuan di tingkat nasional maupun internasional.
Purwati Wulan, mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia yang memiliki perhatian pada isu perempuan, kekerasan domestik, dan ketimpangan gender dalam kehidupan sehari-hari. Ketertarikannya tumbuh dari pengalaman personal sebagai perempuan yang dibesarkan dalam keluarga sederhana, serta proses kehilangan ibunya pada 2025 yang membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan dan perjuangan perempuan. Ia pernah terlibat dalam Gerakan Pita Ungu, kegiatan mahasiswa yang berfokus pada edukasi mengenai kekerasan seksual dan budaya patriarki. Selain itu, Wulan juga tengah mengembangkan penelitian mengenai fenomenologi tubuh perempuan dan alienasi dalam kekerasan domestik sebagai bentuk kontribusinya terhadap wacana feminisme dan keadilan sosial.
Nurul Falah Islami, merupakan mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Pendidikan Indonesia. Lahir dan besar di Kota Palu, sejak menempuh pendidikan S1 ia aktif terlibat dalam isu pendidikan, gender, dan pemberdayaan masyarakat. Nurul pernah menjadi bagian dari Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual serta Forum Muda Lintas Iman Sulawesi Tengah di bawah naungan YLBH APIK. Ia juga mendirikan Komunitas Rumah Literasi Ceria Kota Palu sebagai ruang literasi yang inklusif bagi seluruh identitas gender. Ketertarikannya berfokus pada kajian pendidikan, gender, SOGIESC, dan isu perempuan dalam masyarakat.
Umy Qalzum Hafid, mahasiswa S2 Program Studi Gender dan Pembangunan di Universitas Hasanuddin yang tinggal di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dengan latar belakang akademik Sosiologi, saat ini saya bekerja di sebagai Communication and Program. Saya aktif dalam penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan komunikasi publik yang berfokus pada isu lingkungan, gender, dan pemberdayaan masyarakat. Saya memiliki minat besar pada literasi gender, budaya lokal, dan komunikasi media sebagai sarana membangun kesadaran sosial serta mendorong pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Yassifa Ariel Delkaissa, mahasiswa program akselerasi (fast-track) Magister Filsafat di Universitas Gadjah Mada dengan fokus kajian pada filsafat sosial, politik, dan gender. Ia memiliki rekam jejak yang kuat dalam dunia riset dan advokasi, salah satunya sebagai Koordinator Kajian dan Riset Srikandi UGM serta alumni magang Komnas Perempuan. Dedikasinya pada literasi feminisme dibuktikan melalui pencapaiannya melalui penulisan esai kritis bertema perempuan di esai Critical Girlhood Studies 2025. Melalui beasiswa Yayasan Toeti Heraty, Yassifa berkomitmen untuk mengintegrasikan ketajaman analisis filosofis dengan kemampuan komunikasi multimodal guna memperluas diseminasi pengetahuan kesetaraan di Indonesia.
Giovanni Ramadhani lahir dan tumbuh menjadi laki-laki di Karawang, Jawa Barat, sebelum sebuah kejadian menyakitkan terjadi dan ia memutuskan berhenti berpikir seperti laki-laki pada umumnya. Selama berkuliah S1 di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, ia aktif di Lingkar Studi Filsafat Cogito, Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa BALAIRUNG, dan Badan Pers Mahasiswa Filsafat Pijar sekaligus menjadi kasir paruh waktu. Ia berkomitmen pada tesis egalitarian, bahwa semua manusia setara dan mesti melakukan pembebasan dari berbagai sistem penindasan yang bersekongkol: heteropatriarki, kapitalisme, rasisme, kolonialisme, ableisme, dll. Belakangan, ia mengubah medan pengorganisasian ke keseharian. Dari jalanan ke meja makan, dari organisasi resmi ke tongkrongan.